NILAI-NILAI KEPEMIMPINAN PADA MASA DEMOKRASI PARLEMENTER (1950-1959)

  • Taat Wulandari

Abstract

Meningkatnya jumlah kemiskinan, kebijakan pemimpin yang lebih
mengutamakan kepentingan diluar kesejahteraan rakyatnya, merupakan
bentuk kegagalan demokrasi modern, contoh riil yang dihadapi yaitu
meningkatnya harga pangan, meningkatnya harga minyak, merupakan
bukti kegagalan produk tidak adanya kepemimpinan di negeri ini.
Sehingga puncak dari tidak adanya /krisis kepemimpinan dan keteladanan
maka bergeraklah gelombang reformasi 1998. Dan sukses dengan
tumbangnya rezim tiga dasawarsa yang telah berkuasa selama rentang
waktu tersebut. Di antara begitu banyak pekerjaan yang sekarang sangat
menonjol di Indonesia sejak bulan Mei 1998, ialah reformasi politik,
reformasi kelembagaan negara, pembentukkan kembali ekonomi yang
sehat, dan ada tugas lain yang penting dan bisa menolong proses
reformasi itu, tetapi belum begitu menarik perhatian. Yang dimaksudkan
adalah upaya mempelajari dan menggali sejarah Indonesia pada masa
demokrasi parlementeri, karena di situ orang bisa mencari kesulitan
sekarang. Selain itu mungkin ada pelajaran yang dapat melapangkan
sedikit jalan keluar dari keadaan yang penuh kesengsaraan,
ketidakpastian, dan kejengkelan zaman sekarang. Pelajaran tersebut
dapat kita pelajari dan ambil dari sejarah Indonesia pada masa demokrasi
parlementer. Penelitian ini mengajak kita menggali inspirasi dari zaman
demokrasi parlementer tahun lima puluhan.

Published
2012-08-31
How to Cite
Wulandari, T. (2012). NILAI-NILAI KEPEMIMPINAN PADA MASA DEMOKRASI PARLEMENTER (1950-1959). NUANSA, 1(1), 65-94. Retrieved from http://www.stkip-al-amin-dompu.ac.id/ojs/index.php/nuansa/article/view/4